Hotline

0812-1598-7054
0857-1266-5024
 
Pin BB:522ACED0
Whatsapp:0812-1598-7054
Fan Page

Twitter

Jumlah Pengunjung

 Online : 3
 Hari ini : 47
 Kemarin : 53
 Bulan ini : 594
 Bulan Kemarin : 1.933
 Total : 92.143
Statistik
    
Berita

Jeruk Pamelo di Pati Langka, Harga di Pasaran MelonjakCetak Kirim ke Teman
Tanggal Posting Jum'at, 12 Agustus 2016, 09:19 WIB  Dikirim oleh : admin (257 kali dibaca)


Koran Muria, Pati – Harga jeruk pamelo di Kabupaten pati saat ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan jeruk pamelo yang mulai langka di pasaran.


Di Desa Bageng, Kecamatan Gembong, yang selama ini memasok jeruk pamelo dengan kualitas unggulan, juga belum bisa melakukan panen. Pasalnya, kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melakukan panen raya. Padahal permintaan jeruk pamelo terus meningkat.


Hal itu yang menyebabkan harga jeruk pamelo melonjak dari harga normal Rp 16 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu per kilogram. Satu buah pamelo biasanya berbobot 2-3 kg. Praktis, satu pamelo harganya naik berkisar di angka Rp 4 ribu sampai Rp 6 ribu.


“Jeruk pamelo sebetulnya tidak mengenal musiman dan selalu ada. Tapi, memang ada yang namanya panen raya dalam setahun terjadi dua kali. Saat ini terjadi keterlambatan panen raya, mungkin karena faktor cuaca yang tidak menentu. Itu yang membuat stok pamelo sangat sedikit saat ini,” ujar Aris Kurniawan, petani pamelo asal Bageng, Jumat (12/8/2016).


Kendati kuwalahan meladeni permintaan, petani pamelo asal Desa Bageng tidak mau mengambil stok pamelo dari luar desa Bageng. Hal itu dikhawatirkan rasa pamelo yang dijual tidak sesuai dengan pamelo asal Bageng, yang selama ini sudah dikenal kualitasnya.


“Kalau kita mau, kita bisa saja memenuhi permintaan jeruk pamelo dari luar Desa Bageng. Tapi, kita khawatir akan berpengaruh pada kualitas dan rasa, sehingga mengecewakan pelanggan. Meski langka, kita tetap melayani pembeli dengan stok minim yang diambil apa adanya dari pohon,” tutur Aris.


Saat ini menurut dia, para petani juga mulai beralih pupuk kandang, untuk menjaga kualitas buah. Pasalnya, nutrisi kimia yang merangsang pohon untuk berbuah disinyalir menjadi penyebab terlambatnya panen raya.


Ketua Kluster Buah Kabupaten Pati Rusdi mengatakan, petani jeruk pamelo di Bageng awalnya memacu tanamannya menggunakan nutrisi kimia. Hasilnya luar biasa, tanaman berbuah dengan sangat lebat.


Penggunaan nutrisi kimia dilakukan, karena waktu itu permintaan pasar sangat tinggi. Tapi, keberhasilan memacu pohon berbuah lebat menggunakan nutrisi kimia ternyata berdampak buruk pada jangka panjang.


“Pada masa panen berikutnya, tanaman menjadi berbuah sangat sedikit meski sudah dipacu dengan nutrisi kimia. Bahkan, masa panen raya sering mengalami keterlambatan. Karena itu, petani pamelo saat ini memilih menggunakan pupuk kandang untuk menyuburkan tanaman,” kata Rusdi.


Berbekal pengalaman itu, para petani saat ini akan beralih menggunakan pupuk kandang dan membiarkan tanaman jeruk pamelo berbuah apa adanya. Kendati permintaan tinggi, para petani tidak akan menggunakan nutrisi berbahan kimia lagi untuk memacu tanaman berbuah lebat.


[http://www.koranmuria.com/2016/08/12/43093/jeruk-pamelo-di-pati-langka-harga-di-pasaran-melonjak.html]

Berita Lainnya :

Kelapa Kopyor dan Jeruk Pamelo di Kembangkan di Kebun Pembibitan Waturoyo
 

Tinggalkan Komentar